Fotografi Kehidupan Alam Liar: 3 Teknik dari Fotografer Profesional

Beginner

Dalam fotografi kehidupan alam liar, pemfokusan dan mendapatkan kecerahan yang diinginkan pada foto bisa merupakan tantangan, tergantung pada waktu dan lokasinya. Mari kita cermati sebagian teknik yang digunakan para fotografer profesional untuk menyikapi situasi semacam itu. (Dilaporkan oleh: Gaku Tozuka, Yukihiro Fukuda)

& Digital Camera Magazine& Yukihiro Fukuda& Gaku Tozuka

Diterbitkan pada 22 June 2017 Diperbarui pada 29 January 2026

Waktu baca

  • 0
  • 0
  • 0

Dalam fotografi kehidupan alam liar, pemfokusan dan mendapatkan kecerahan yang diinginkan pada foto bisa merupakan tantangan, tergantung pada waktu dan lokasinya. Mari kita cermati sebagian teknik yang digunakan para fotografer profesional untuk menyikapi situasi semacam itu. (Dilaporkan oleh: Gaku Tozuka, Yukihiro Fukuda)

Beruang cokelat di Finlandia, difoto dengan EOS 5D Mark IV

 

Teknik 1: Gunakan Single-point Spot AF untuk memfokuskan pada burung liar di hutan yang gelap

Dalam kondisi rendah cahaya, bisa semakin sulit untuk menetapkan fokus dengan fokus otomatis (AF). Hal ini memang betul kalau berada di hutan dan menggunakan mode AF yang melaksanakan pengoperasian pada area yang lebih luas, bisa menghasilkan fokus yang "terganggu" oleh cabang dan dedaunan di latar depan, atau pada area lainnya yang tidak diperkirakan. Namun, meskipun titik AF tengah dengan Single-point AF sangat akurat, namun menggunakan mode ini akan membatasi cara Anda menyusun bidikan. Inilah saat Single-point Spot AF menjadi praktis, karena memberikan kebebasan yang lebih besar dalam komposisi Anda, sekaligus memastikan fokus tetap terkunci pada subjek Anda.

Dalam foto di bawah ini, saya memposisikan burung agak ke pinggir kanan untuk menyatukan tata letak cabang pohon yang menarik. Titik AF dipindahkan dua titik ke kanan untuk menghasilkan bidikan ini.

Burung liar, difoto dengan EOS 7D Mark II

EOS 7D Mark II/ EF500mm f/4L IS II USM + Extender EF1.4×III/ FL: 700mm (setara 1.120mm)/ Aperture-priority AE (f/5.6, 1/40 det., EV-0,7)/ ISO 1600/ WB: Auto
Foto oleh Gaku Tozuka

 

Saran 1-1: Ubah pengaturan AF agar sesuai dengan situasinya

Pada pemandangan yang tidak bisa mengalami kesalahan, atau apabila Anda ingin menangkap momen yang bisa hilang dalam sekejap, pendekatan dalam teori ini adalah, memfokuskan dengan menggunakan titik AF tengah yang sangat akurat dalam Single-point AF sambil membidik secara beruntun. Jika hewan liar tidak banyak bergerak, Anda akan lebih leluasa. Cobalah menetapkan Single-point Spot AF, yang akan lebih memudahkan untuk mengubah komposisi Anda. Tetapi, jika Anda ingin memotret subjek yang bergerak cepat, seperti burung yang terbang di langit, saya anjurkan pengaturan yang mencakup area yang lebih luas.

Burung liar, difoto dengan EOS-1D X Mark II

EOS-1D X Mark II/ EF500mm F4L IS II USM+EXTENDER EF2×III/ FL: 1000mm/ Aperture-priority AE (f/8.0, 1/1600 det., EV±0)/ ISO 800/ WB: Auto
Foto oleh Gaku Tozuka


Jika menggunakan Single-point Spot AF untuk memotret burung yang sedang melayang di angkasa, kemungkinan kamera memfokuskan pada latar belakang jika subjek bergerak ke luar area fokus. Mungkin akan lebih ideal menggunakan mode AF yang mencakup area yang lebih luas.

Bacalah artikel berikut ini untuk mendapatkan saran mengenai cara menggunakan AF untuk fotografi kehidupan alam liar/burung liar:
Menangkap Burung yang Melayang di Langit
Menangkap Bidikan Dinamis Burung di Langit
Menangkap Momen, Saat Burung Akan Terbang
Pro Techniques untuk Menggunakan EOS 7D Mark II – Kehidupan Liar

Memikirkan tentang perlengkapan fotografi? Bacalah ulasan Gaku Tozuka tentang kebolehan EOS-1D X Mark II dalam fotografi burung liar:
Akurasi Fokus dan Performa Pelacakan AF Mencengangkan
Dual Pixel CMOS AF—Fokus Sempurna, Bahkan dalam Pemandangan Gelap

 

Teknik 2: Untuk mempertahankan suasana malam hari, bidiklah dengan negative exposure compensation (kompensasi pencahayaan negatif) dalam mode Aperture-priority AE

Pada kamera Canon paling anyar, batas kisaran cahaya rendah untuk pemotretan Live View telah diperbaiki hingga tahap pemfokusan dapat dilakukan, bahkan dalam situasi yang sulit untuk melihat secara kasat mata, misalnya, pada EV-4.

Sewaktu memotret spesies hewan liar yang aktif setelah senja, saya memikirkan tentang bagaimana saya bisa menunjukkan dunia kegelapan di sekitar hewan. Kamera digital memiliki kecenderungan untuk membidik seperti yang dilakukan pada siang hari, bahkan di lokasi yang gelap, jadi, saya menggunakan Aperture-priority AE dengan kompensasi pencahayaan yang ditetapkan antara EV-1,0 dan -2,0 untuk menekan efek ini, dan menggambarkan suasana malam hari dalam bidikan. Inilah teknik pemotretan yang saya sebut "Night mode" (Mode Malam), yang efektif untuk digunakan pada saat suhu warna rendah, setelah matahari terbenam dan sebelum matahari terbit.

Beruang cokelat di Finlandia, difoto dengan EOS 5D Mark IV

EOS 5D Mark IV/ EF70-200mm f/2.8L IS II USM/ FL: 70mm/ Aperture-priority AE (f/2.8, 1/5 det., EV-1,3)/ ISO 10000/ WB: Daylight
Foto oleh Yukihiro Fukuda

 

Saran 2-1: Bidikan dalam Live View dari balik photographic blind

Untuk menangkap foto beruang cokelat ini di Finlandia bagian timur laut, saya membidik dari blind yang dibuat secara khusus untuk memotret beruang cokelat. Saya memasukkan lensa melalui celah kecil dalam blind untuk membidik, dan dapat mengencangkan kepala tripod dalam blind, sehingga lebih memudahkan pemotretan. Lakukan dengan hati-hati, jangan kehilangan penampakan subjek apabila menggunakan AF Live View sewaktu membidik. Teknik ini efektif apabila daya penglihatan minimal.

Memotret beruang dari balik blind milik saya yang dibuat khusus

 

Saran 2-2: Tetapkan white balance pada "Daylight" untuk menangkap perubahan dalam suhu warna, segera setelah matahari terbenam

Dengan menetapkan white balance pada "Daylight", Anda bisa mengambil foto yang mempertahankan perubahan beruntun dalam suhu warna, sebelum dan sesudah matahari terbenam. Saya merekomendasikan teknik ini, karena Anda dapat menangkap perubahan dalam warna yang terjadi tatkala malam menjadi semakin gulita.

 

Warna kemerahan hadir 7 menit sebelum matahari tenggelam

Beruang di Finlandia, dibidik 7 menit sebelum matahari terbenam dengan EOS 5D Mark IV

EOS 5D Mark IV/ EF70-200mm f/2.8L IS II USM/ FL: 200mm/ Aperture-priority AE (f/2.8, 1/60 det., EV-1,3)/ ISO 3200/ WB: Daylight
Foto oleh Yukihiro Fukuda

 

Warna kebiruan meningkat, 13 menit setelah matahari terbenam

Beruang di Finlandia, dibidik 13 menit setelah matahari terbenam dengan EOS 5D Mark IV

EOS 5D Mark IV/ EF200mm f/2L IS USM/ FL: 200mm/ Aperture-priority AE (f/2.0, 0,4 det., EV-1)/ ISO 12800/ WB: Daylight
Foto oleh Yukihiro Fukuda

 

Anda bisa mengetahui dari indikator level pencahayaan, bahwa kegelapan semakin cepat turun setelah matahari terbenam. Dengan menetapkan white balance, warna kebiruan akan secara alami meningkat seiring dengan matahari terbenam. Tidak ada perbedaan dalam pengaturan pasca-pemrosesan dari kedua foto di atas. Satu-satunya parameter yang berubah selama pasca-pemrosesan adalah kontras yang meningkat. Anda bisa melihat, bahwa memotret pada waktu yang berbeda-beda bisa menghasilkan gambar yang memberikan kesan yang sama sekali berbeda.

Untuk opsi lebih lanjut mengenai cara menyiasati suhu warna, bacalah:
Bagaimana Menorehkan Warna dengan Fungsi White Balance Correction

Gagasan lainnya untuk memotret kehidupan alam liar:
Teknik Lensa Super Telefoto - Siluet Alam Liar di Terik Sang Surya
Bagaimanakah Memotret Hewan Kecil dengan Latar Belakang yang Ramai Tapi Indah?


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!
 

Related Reads

[Bagian 3] Menangkap Momen, Saat Burung Akan Terbang
[Bagian 2] Menangkap Bidikan Dinamis Burung di Langit
[Bagian 1] Menangkap Burung yang Melayang di Langit

Author

Digital Camera Magazine

A monthly magazine that believes that enjoyment of photography will increase the more one learns about camera functions. It delivers news on the latest cameras and features and regularly introduces various photography techniques.Published by Impress Corporation

Yukihiro Fukuda

Born in 1965 in Tokyo. Fukuda's visit to Hokkaido in search of the Japanese cranes he loved led him to become an animal photographer. After spending 10 years on wildlife coverage in Hokkaido, Fukuda e

Gaku Tozuka

Born in 1966 in Aichi, Tozuka developed an interest in photography when he was in the third year of high school, and started to capture natural landscapes as well as wildlife animals. At the age of 20

Join the conversation

0 komentar