Menghentikan Waktu, Menangkap Cinta Bersama Ivan Natadjaja

Beginner

Merekam pernikahan di Indonesia dari mata seorang fotografer.

& Ivan Natadjaja

Diterbitkan pada 12 June 2017 Diperbarui pada 29 January 2026

Waktu baca

  • 0
  • 0
  • 0

Saya akan membahas hari pernikahan terlebih dahulu karena ini adalah proses dokumentasi acara , dimana dokumentasi merupakan dasar dari semua aliran fotografi. Disini kita sebagai fotografer baik pemula maupun profesional harus selalu siap dengan segala situasi (LLP kalau bahasa dari saya: Location, Light and People). 

wedding photography

EOS 5D Mark III; EF24-70mm f/2.8L USM; 50mm; f/2.8; 1/320 sec; ISO 500

Location: Kita harus siap dan cepat mengenal tempat dimana kita harus meliput acara pernikahan, lokasi dibagi beberapa bagian:

1. Pada saat acara berlangsung (bagian mempelai masuk, tengah acara dan akhir/ puncak acara).

2. Detail dari atribut pendukung: bunga pelaminan, kue pengantin, bunga papan, gapura pernikahan, dll.

Light: Kondisi ruangan/ tempat pada saat kita akan mengambil gambar, setting di camera dengan pilihan terbaik dari aperturepencahayaan, kecepatan rana, dan temperatur Kelvin.

wedding photography

EOS 5D Mark III; EF135mm f/2L USM; 135mm; f/2; 1/640 sec; ISO 320

People: Pada saat kita mendokumentasikan pernikahan, kita harus ingat bahwa bukan hanya kedua mempelai saja yang menikah, melainkan keluarga, dan gabungan dari para tamu sebagai pelengkap sebuah pesta pernikahan.

wedding photography

EOS 5D Mark III; EF24-70mm f/2.8L USM; 135mm; f/2; 1/60 sec; ISO 800

Setelah mengetahui dasar dari apa saja yang harus di ambil pada saat acara pernikahan, tentu fotografer harus mengetahui dan meyakini alat yang dipakai adalah alat yang terbaik, kenali karakter kamera dan lensa anda, gunakan Flash jika kurang cahaya. Trik: jangan menggunakan flash pada saat pemberkatan atau sembahyang karena bisa mengganggu kesakralan acara dan tidak sopan. Seorang fotografer profesional tidak hanya menghasilkan gambar yang baik tetapi juga etika yang baik. Ucapkan permisi atau izin jika ingin memotret barang-barang yang bersifat adat/ kebudayaan atau pribadi. Jangan lupa untuk menggunakan kata permisi sebelum mengambil foto yang bersifat sensitif, seperti orang tua (kakek/ nenek), karena umumnya orang tua tidak suka diambil foto secara candid. Jadi diusahakan untuk meminta ijin terlebih dahulu. Saya juga menyarankan untuk menggunakan lensa Tele saat pengambilan foto candid.

wedding photography

EOS 5D Mark III; TS-E 24mm f/3.5L II; 24mm; f/3.5; 1/80 sec; ISO 3200

Tidak seperti budaya perayaan pernikahan lainnya, Indonesia lebih dikenal dengana keanekaragaman etnisnya. Setiap kota, bahkan setiap suku mempunyai tradisinya masing-masing dan hal itu yang membuatnya berbeda. Dari pakaian adat hingga dekorasi dan ritual sebelum perayaannya cukup menarik. Waktu acara pernikahan tradisional, hal terbaik yang harus dilakukan adalah melakukan koordinasi dengan tim penyelenggara mengenai rundown acara. Gunanya, kita dapat mencari posisi yang strategis sebelumnya. Hal lain yang harus diingat adalah, kita harus menghormati tradisi. Akan lebih baik jika fotografer dapat berkomunikasi dengan wedding organizer atau ketua panitia pernikahan untuk mendokumentasi, tanpa menyinggung atau mengganggu prosesi tradisi. Akan lebih baik jika kita memiliki tim minimal 2 orang selama upacara pernikahan agar dapat menangkap seluruh acara.

wedding photography 

EOS 5D Mark III; EF16-35mm f/4L IS USM; 16mm; f/3.2; 1/50 sec; ISO 2000

wedding photography

EOS 6D; EF16-35mm f/12.8L USM;32mm; f/2.8; 1/100 sec; ISO 1250

Fotografi Pre-Wedding

Pemotretan fotografi pre-wedding adalah fotografi yang kurang terkoordinasi dimana model berpose dan tugas fotografer untuk berburu dan menangkap moment sempurna tanpa mengarahkan modelnya. Oleh karena itu, fotografi pre-wedding dapat dikategorikan sebagai fotografi fashion. Kenapa fotografi pre-wedding dapat diasosiasikan sebagai fotografi fashion?

Fotografi pre-wedding berhubungan dengan lokasi, pakaian atau aksesori, dan bahkan pose yang sesuai. Aspek ini sebanding dengan fotografi fashion. Fotografer harus memiliki selera yang baik dan mampu berinteraksi dengan klien. Perlu diperhatikan bahwa pengantin wanita dan / atau calon pengantin pria mungkin bukan model profesional. Dengan demikian, mengarahkan dan mengendalikan ekspresinya akan menjadi tantangan tersendiri. Fotografi pre-wedding cenderung dinamis. Untuk melakukan pemotretan di lokasi yang berbeda, menguasai cahaya dalam fotografi sangat penting. Seorang fotografer harus tangkas dan siap untuk beradaptasi dengan berbagai situs dan kondisi pencahayaannya. Keterampilan dasarnya adalah menghindari cahaya. Jika Anda melakukannya, Anda mungkin ingin meningkatkan pengaturan ke over-exposure + 2 / + 3. Hal ini akan membantu untuk mendapatkan cahaya yang cukup, mencegah gambar gelap yang disebabkan oleh situasi backlight.

wedding photography

EOS 5D Mark III; EF50mm f/1.8 USM; 50mm; f/1.6; 1/160 sec; ISO 800

Perkaya pengetahuan Anda dalam suasana hati fotografi dan ide berpose. Belajar, mendapatkan inspirasi dan meniru karya orang lain adalah proses awal yang lazim di kalangan praktisi. Bila Anda mendapatkan lebih banyak waktu dan mendapatkan lebih banyak pengalaman, Anda tentu akan membangun karakter Anda sendiri.

Dapatkan berita dan trik fotografi terbaru dengan mendaftar dan mengikuti Canon SnapShot!

Related Reads

Fotografi Pernikahan yang Inkonvensional
Memotret Pernikahan: Tempat Terbaik dan Tren
Fotografi Pernikahan: Kiat & Pengetahuan Profesi

Author

Ivan Natadjaja

​Started photography in 2010. Through self-learning, accompanied with supporting dictions and also friends

Join the conversation

0 komentar