Fotografi Lanskap Minimalis dengan Bentangan Langit
Melatih diri untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara langit dan daratan serta mendapatkan foto lanskap minimalis yang ideal.
- 0
- 0
- 0
Melatih diri untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara langit dan daratan serta mendapatkan foto lanskap minimalis yang ideal.
Fotografer alam pasti tidak akan menghindari langit. Bukan saja bentangannya yang luas dan menyatukan kita dengan jagat raya, namun langit pun bisa menjadi kanvas yang dramatis untuk bidikan kita! Tetapi, kalau kita tidak menanganinya dengan cukup baik, komposisinya akan terkesan memiliki terlalu banyak ruang kosong. Membidik gambar langit pada rasio 7:3 akan melatih Anda untuk lebih cermat memanfaatkan ruang dalam bidikan Anda. Siap, siaga, jepret! (Dilaporkan oleh Toshiki Nakanishi, Digital Camera Magazine)

EOS R/ RF28-70mm f/2L USM/ FL: 31mm/ Flexible-priority AE (f/11, 1/320 det.)/ ISO 400/ WB: Daylight
Apabila kita menyaksikan pemandangan yang memukau—seluruh padang bunga yang indah di bawah langit biru nan jernih, misalnya—kita tergoda untuk menyertakan segalanya dalam bingkai. Tetapi, menyatukan sejumlah unsur utama dalam proporsi yang sama, akan membuatnya saling berebut perhatian, dan tanpa subjek utama yang jelas, pemirsa tidak akan tahu apa yang harus dilihatnya.
Contoh negatif: 50% langit, 50% bumi

Subjek utamanya yang mana? Tidak terlalu jelas di sini.
Dalam situasi tertentu, akan lebih masuk akal untuk menyertakan lebih banyak langit dalam bingkai, misalnya saat Anda memotret langit malam yang bertaburan bintang gemintang. Itulah saat Anda harus berani menyertakan lebih banyak langit dalam bingkai sehingga subjek utamanya—langit—menjadi semakin jelas. Tentu saja, Anda juga harus tetap cermat dalam memastikan penempatan langit dan bumi secara seimbang!
Contoh yang bagus: 80% langit, 20% bumi

Subjek utama tampak lebih jelas
Kesan luas yang diciptakan oleh lensa sudut lebar sungguh bagus untuk menonjolkan detail langit secara ekspresif. Pernak-pernik ini khususnya terlihat bagus apabila terdapat banyak gumpalan awan yang menarik: perspektif sudut lebar meningkatkan pergerakan awan dan membuatnya seakan bergerak hingga keluar bingkai.

Memotret pada sudut lebar akan meningkatkan kesan lapang.
Pelangi adalah suatu contoh pemandangan yang akan tampak terlalu ramai: kita terlalu terlena untuk memotretnya sehingga tanpa disadari, kita menyertakan terlalu banyak elemen pada bumi. Apa pun keputusan Anda, apakah membuat bidikan langit 70% atau 80%, sebaiknya pertimbangkan keterkaitan antara subjek utama (langit) dengan subjek kedua (bumi/lahan) saat Anda menyusun komposisi.
Contoh negatif: Terlalu banyak elemen pada bumi

Lahan di latar depan tampak gelap, dan menghabiskan sebagian besar ruang bingkai, menyebabkan seluruh gambar tampak tidak bagus, mengganggu pandangan kita ke pelangi.
Contoh yang bagus: Setelah merapikan komposisi

Saya susun ulang gambar untuk mengurangi penyertaan lahan yang menyederhanakan bidikan. Saya juga memastikan bahwa semua elemen tampak seimbang dengan baik. Mata pemirsa ditarik dan menetap pada subjek utama—pelangi ganda.
Baca juga: Saran Kilat untuk Memotret Pelangi
Dengan langit yang begitu luas, kemiringan apa pun di cakrawala akan terlihat sangat jelas. Periksa kemiringan saat Anda membidik.

Saran: Di sini, kita lebih memperhatikan mengenai selurus apa cakrawala terlihat dalam gambar, bukan separalel apa cakrawala itu terhadap bumi. Jadi, menggunakan timbangan kedataran secara fisik maupun elektronik, tidak terlalu membantu. Gunakan tampilan kisi-kisi agar Anda dapat melihat lebih baik. Kalau mengoreksinya pada pasca-penyuntingan, Anda harus merotasi dan mengkrop bidikannya, yang bisa menghilangkan kesan “lebar” pada fotonya.
Hari yang cerah dan jernih, tidak bagus untuk fotografi langit. Sebagai gantinya, cobalah memotret dengan pencahayaan yang agak lama pada hari mendung, atau bahkan saat menjelang matahari terbit atau setelah matahari terbenam.
Bidik dengan pencahayaan lama untuk menangkap pergerakan awan

Salah satu kondisi yang sangat bagus untuk bidikan langit yang dramatis adalah ketika terdapat angin kencang dan banyak awan. Untuk meningkatkan ekspresi pergerakan awan yang berarak perlahan, cobalah mengambil bidikan dengan pencahayaan yang agak lama, menggunakan filter ND untuk mengurangi cahaya.
Replika sorotan kilauan sinar surya yang mencengangkan

Sinar surya mengintip dari atas cakrawala sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam, bisa menampilkan pemandangan yang sungguh memukau. Apabila membidik pemandangan semacam itu, ingatlah Langkah 2! Langit dan berkas cahaya adalah subjek utama Anda, jadi ingat dan upayakan mengurangi proporsi ruang yang terambil oleh subjek kedua.
Rasio perbandingan proporsi langit terhadap bumi, tergantung pada pemandangannya. Yang sangat penting adalah mempertimbangkan, apa yang ingin Anda sampaikan melalui penggunaan ruang yang dipenuhi oleh langit.

Pada gambar di atas, bulan purnama melayang di atas langit nan indah. Komposisi yang seimbang dihasilkan dengan rasio 7:3 antara langit terhadap daratan.
Contoh negatif: Terlalu banyak daratan

Langit menjelang fajar pada bidikan di atas merupakan ombre atau gradasi warna langit yang indah, tetapi perhatian saya pun tertuju pada daratan, dan hal itu terlihat pada gambar ini. Langit bisa terlihat lebih mengesankan kalau porsi daratan berkurang. Harus bersikap pasti tentang subjek apa yang ingin Anda tampilkan, dan susun sedemikian rupa sehingga semua mata hanya tertuju ke subjek tersebut!
Untuk gagasan lainnya mengenai fotografi langit dan lanskap, bacalah:
Memulai Fotografi Lanskap: 5 Hal Untuk Diketahui
Membuat Keputusan dalam Fotografi Lanskap: Memutuskan, Apakah Menyertakan atau Tidak Menyertakan Matahari dalam Bingkai
Menangkap Warna Cemerlang dan Benderang Matahari Terbit
4 Kunci Membidik Lanskap Menjelang Fajar
Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi.
Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.
Daftar Sekarang!

Join the conversation